| |
Friday, April 07, 2006 | 4:58 PMPak Pepe
Namanya Pak Pepe Syapei (orang sunda tea), petugas immunisasi, umurnya saat itu masih 50-an, atau kurang malah, namum penampilannya kayak dah tua banget. rambutnya keriting (persis illustrasi nya), full minyak rambut cap nyong-nyong.Menurut info staf lain, orangnya agak nggak normal, rada "gelo", kadang ngantor, kadang meliburkan diri. Banyak pula catatan hitamnya dimasa lalu, ada yg bilang pernah memperkosa anak bisu, tukang kawin cerai, dsb. Sosoknya sbg juim banyak ditakuti ibu-ibu balita, nggak cuma balitanya. Banyak kader posyandu yg menolak kedatangan pak Pepe, katanya Pak Pepe pernah nyuri dompetnya salah satu kader posyandu, jarum suntik dipakai berkali-kali, dsb. Informasi ttg ke"gelo"an Pak Pepe sudah disampaikan ke Dinas berkali-kali, entah kenapa masih saja dipekerjakan. Meski agak "gelo" sama duit apal banget, lumayan licik juga, misalnya kalau naik bus ke tasik dia bakal berpura-pura "gelo" biar nggak ditarik ongkos, lama-lama kondektur ya apal kalau itu cuma akal bulusnya. Kadang kalo sore, pas Pak Pepe piket, suka digodain anak-anak , pintu Puskesmas digedor-gedor trus pada ngabur kalo Pak Pepe mbuka, kadang dari rumah dinas ketawa aja,...lumayan buat hiburan. Setiap menjelang lebaran, aku bagi-bagi sedikit uang simpanan yg dikelola bendahara, Pak Pepe kebagian juga, sampai saat th terakhir tugasku, dia dapat lumayan banyak, melalui rundingan dgn staf yg lain, uangnya nggak dikasihkan semua ke Pak Pepe, tapi sebagian digunakan untuk mengurus pensiun dininya. Yah, begitulah Dinkes, meski jelas-jelas dia nggak bermanfaat lagi di puskesmas, untuk ngurus pensiun aja butuh biaya,.....lha kalau nggak ada biaya, sampai kapan org seperti Pak Pepe masih aja bercokol di puskesmas?
0 comments |
About
Nurul Hiedayati, alumni FK UNDIP angk 1990.
|